Mahalnya Sebuah Kepercayaan

/ February 04, 2020
Bismillah
Annyeonghaseyoo Yorobuun

Kali ini neng mau sharing tentang satu hal, KEPERCAYAAN. 
Teman teman pernah mendapatkan atau mengemban sebuah amanah, namun gagal menjaga kepercayaan itu? Sehingga mengecewakan sang pemberi amanah... Neng pernah, mungkin beberapa kali, secara neng sadari atau tidak, neng sengaja atau tidak. Apapun alasannya, neng pernah membuat kecewa. Mungkin bukan satu dua orang tapi banyak.

Tahu bagaimana rasanya? Kalau bisa mengutuki diri sendiri mungkin sudah banyak sumpah serapah yang neng keluarkan untuk diri sendiri. Marah dan malu yang terasa membakar wajah. Karena saat gagal mengemban amanah dan melukai serta mengecewakan orang lain itu mahal sekali harganya. 

Jika sekali seseorang dikecewakan untuk mengembalikan kepercayaanya kembali pada kita itu, perlu usaha yang lebih dari saat awal. Belum tentu juga kepercayaanya kembali utuh. Ibarat selembar kertas yang diremas remas. Lalu sekuat apapun kita membuatnya lurus lagi, rapi lagi, rata lagi. Mungkin bisa tapi tekstur kertasnya akan sama saja tidak bisa utuh seperti sebelum diremas. 

Lantas bagaimana jika kita suatu saat diberikan amanah, apa yang harus kita lakukan? 
Yang pertama, pelajari apakah kita MAU menerima amanah tersebut. 
Yang kedua, pastikan kita MAMPU menjaga dan menjalaninya. Analisis semua prosesnya apakah benar kita memiliki kapabilitas tersebut.
Yang ketiga, LAKUKAN YANG TERBAIK untuk membuktikan memang kita layak mendapatkan amanah tersebut. 
Yang keempat, JANGAN BERHENTI. Seberat apapun jangan berhenti. Jika ada kendala maka tugas kita cari solusi terbaiknya. Diskusikan dan minta masukan pada si pemberi amanah saat kendala itu muncul agar Ia mampu juga memberikan masukan solusi terbaik.

Poin keempat ini yang penting adalah proses komunikasi dari si pemberi amanah. Karena kuncinya adalah komunikasi. Pun jika di tengah jalan kita sudah merasa tidak mampu, maka jika komunikasi terjalin baik maka semua pihak akan memahami kendala yang kita hadapi. 

Percayalah mahal sekali harganya kalau kita harus mengembalikan kepercayaan yang hilang. Karena untuk membuktikan diri kita masih bisa dipercaya itu benar-benar butuh usaha ekstra. Jadii... Jaga terus apa yang telah dipercayakan padamu. Tunjukkan kalau memang kamu layak dipilih. 

Keep spreading the love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 35 of 366



Bismillah
Annyeonghaseyoo Yorobuun

Kali ini neng mau sharing tentang satu hal, KEPERCAYAAN. 
Teman teman pernah mendapatkan atau mengemban sebuah amanah, namun gagal menjaga kepercayaan itu? Sehingga mengecewakan sang pemberi amanah... Neng pernah, mungkin beberapa kali, secara neng sadari atau tidak, neng sengaja atau tidak. Apapun alasannya, neng pernah membuat kecewa. Mungkin bukan satu dua orang tapi banyak.

Tahu bagaimana rasanya? Kalau bisa mengutuki diri sendiri mungkin sudah banyak sumpah serapah yang neng keluarkan untuk diri sendiri. Marah dan malu yang terasa membakar wajah. Karena saat gagal mengemban amanah dan melukai serta mengecewakan orang lain itu mahal sekali harganya. 

Jika sekali seseorang dikecewakan untuk mengembalikan kepercayaanya kembali pada kita itu, perlu usaha yang lebih dari saat awal. Belum tentu juga kepercayaanya kembali utuh. Ibarat selembar kertas yang diremas remas. Lalu sekuat apapun kita membuatnya lurus lagi, rapi lagi, rata lagi. Mungkin bisa tapi tekstur kertasnya akan sama saja tidak bisa utuh seperti sebelum diremas. 

Lantas bagaimana jika kita suatu saat diberikan amanah, apa yang harus kita lakukan? 
Yang pertama, pelajari apakah kita MAU menerima amanah tersebut. 
Yang kedua, pastikan kita MAMPU menjaga dan menjalaninya. Analisis semua prosesnya apakah benar kita memiliki kapabilitas tersebut.
Yang ketiga, LAKUKAN YANG TERBAIK untuk membuktikan memang kita layak mendapatkan amanah tersebut. 
Yang keempat, JANGAN BERHENTI. Seberat apapun jangan berhenti. Jika ada kendala maka tugas kita cari solusi terbaiknya. Diskusikan dan minta masukan pada si pemberi amanah saat kendala itu muncul agar Ia mampu juga memberikan masukan solusi terbaik.

Poin keempat ini yang penting adalah proses komunikasi dari si pemberi amanah. Karena kuncinya adalah komunikasi. Pun jika di tengah jalan kita sudah merasa tidak mampu, maka jika komunikasi terjalin baik maka semua pihak akan memahami kendala yang kita hadapi. 

Percayalah mahal sekali harganya kalau kita harus mengembalikan kepercayaan yang hilang. Karena untuk membuktikan diri kita masih bisa dipercaya itu benar-benar butuh usaha ekstra. Jadii... Jaga terus apa yang telah dipercayakan padamu. Tunjukkan kalau memang kamu layak dipilih. 

Keep spreading the love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 35 of 366



Continue Reading
Bismillah
Annyeonghaseyoo yorobuun

Kangen euy padahal baru sehari jeda neng ga nulis. Selain karena kesibukan (eh ciyeee sibuuk) kemarin tuh neng tertegun dengan berita yang seliwar seliwer. Selain di linimasa, berita tersebut banyak muncul di televisi, portal berita, dan banyak lagi. Saat melihat berita itu kaya berasa sediih gitu. 

Berita apa sih neng? 

Ituh berita pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang selama ini terjebak di beberapa titik di China, terutama di Wuhan. Kota yang konon tempat bermulanya wabah virus Corona. Saat saudara-saudara kita itu masih di sana, banyak yang berkomentar kenapa sih tidak segera dievakuasi. Saat sudah dievakuasi dan pemerintah sudah menentukan tempat observasi yaitu di kepulauan Natuna melalui Batam muncul lagi reaksi dari warga sekitar. 😢

Jujur, neng shock melihat reaksi warga Natuna. Tapi sebenarnya paham juga sih. Di antara informasi yang simpang siur tentang wabah Virus Corona dan status kondisi WNI yang dipulangkan dari China ini menimbulkan ketakutan dari warga kepulauan Natuna. Neng juga paham kalo wakil bupati Natuna juga beberapa anggota DPRD bereaksi keras karena merasa Pemerintah pusat tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam penentuan lokasi observasi. Neng juga paham pendapat tokoh masyarakat yang juga koordinator aksi yang menanyakan mengapa Natuna yang dipilih sementara fasilitas kesehatan di Ibukota negara lebih lengkap dibanding Natuna. Neng juga mengerti ketakutan warga yang takut kalo wabah virus Corona akan menjangkiti di kepulauan Natuna apabila observasi WNI dari China dilakukan di sana. Neng juga sangat memahami kalau warga masyarakat kepulauan Natuna menginginkan adanya jaminan kesehatan nantinya.

Tapi... 

Reaksi masyarakat yang neng lihat di layar televisi atau portal berita internet itu membuat neng patah hati. Bagaimana massa yang menyerbu ingin masuk ke pangkalan militer di Natuna. Bagaimana mereka ingin mengusir 238 WNI yang dievakuasi dari China dan tidak mengizinkan saudara-saudara sebangsanya sendiri itu menginjakkan kaki di Natuna dengan alasan tidak mau tertular virus Corona. Bagaimana suasana menjadi ricuh, pembakaran ban, teriakan amarah, wajah penuh emosi dan masih banyak lagi reaksi yang membuat neng patah hati. 

Kalau penolakan itu dilakukan oleh WNA atau bukan saudara sebangsa sih mungkin bisa neng mengerti dan pahami. Tapi ini masih saudara sebangsa loh. Di KTP masih sama tulisannya kewarganegaraan Indonesia. Iya neng juga takut kok kalau tertular virus penyakit itu. Takut banget malah. Tapi kan ya pemerintah pasti sudah mengkalkulasi semua keputusan yang diambil. Termasuk dampaknya yang mungkin muncul di tempat lokasi observasi di lakukan. 

Presiden, Menteri Luar Negeri, Panglima TNI, Menteri Kesehatan, dan semua jajaran pasti punya alasan kuat mengapa memilih Natuna sebagai tempat observasi. Menurut Panglima TNI dari semua titik alternatif lokasi, Natunalah yang memiliki pangkalan militer dengan rumah sakit yang ada di bawah tiga Angkatan. Lokasi yang dipilih juga merupakan sebuah Hanggar yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tetap nyaman saat 238 WNI yang dievakuasi dari China itu diobservasi selama 14 hari kedepan. 

Menteri Kesehatan, dr. Terawan juga menekankan bahwa 238 WNI yang dievakuasi dalam keadaan sehat, tidak dalam keadaan demam, atau terindikasi terinfeksi virus Corona. Karena menurut dr. Terawan pemulangan 238 WNI itu sudah sesuai regulasi di China saat ini. Karena pemerintah China bahkan tidak akan memberikan izin keluar dari negaranya jika seseorang itu sedang mengalami sakit. Hal ini terbukti ada beberapa WNI yang tidak mendapatkan permit saat proses evakuasi dilakukan. 

Observasi selama 14 hari ini hanyalah upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan SOP yang ditetapkan oleh WHO, Prosedur Tetap (Protap) dari standar kesehatan militer yakni International Commitee Military Medicine (ICMM), dan peraturan militer. 

Kenapa kesannya tanpa koordinasi atau serba mendadak? 

Ya kalau neng pikir sih ini semata-mata karena alasan darurat. Dan semua keputusan yang diambil pasti sudah dipikirkan masak-masak oleh semua pihak. 

Ketakutan masyarakat Natuna neng pikir juga wajar muncul karena minimnya informasi yang terpercaya tentang wabah virus Corona dan penangananya oleh pemerintah. Lebih banyak hoax yang bertebaran. Di sini mungkin PR pemerintah untuk memberikan sosialiasi yang jelas pada masyarakat. Masyarakat harus mendapat asupan informasi yang tepat tentang bagaimana virus Corona, penyebarannya, bagaimana pencegahannya, dan banyak hal yang lain. Agar masyarakat ada gambaran dan tidak mengalami ketakutan yang berlebihan atau bahkan tidak peduli berlebihan. 

Di atas semua itu...
Neng cuma pengen bilang sih 238 orang yang sekarang diobservasi itu masih saudara kita loh. Atau bahkan di luar 238 orang itu, mereka yang pulang secara mandiri dari China. Mereka masih saudara kita. Bahkan jika mereka terinfeksi pun, mereka masih saudara kita. Menolak keberadaan mereka di dekat kita seolah olah merekalah virusnya itu menyakitkan hati. Bagaimana perasaan anggota keluarga mereka melihat berita itu? Mereka mungkin sesedih neng saat ini. 

Mereka membutuhkan bantuan dan dukungan kita di saat seperti ini. Bukannya menyelamatkan diri sendiri-sendiri di saat genting, tapi kita harus saling membantu... Jangan kucilkan seseorang karena penyakit atau kekurangannya. Itu sangat menyakitkan, meskipun tak mereka tunjukkan. 

Keep spreading love
Neng Nunung

11:11 moment 
Day 33-34 of 366



Bismillahirrahmanirrahim

Annyeonghaseyo yorobuun...

Tadi pagi di akun Facebook neng, neng menulis tentang sesumbar yang selama ini neng ucapkan. Iya, selama tahun-tahun kemarin saat ditanya kapan rencana neng untuk berumahtangga lagi, dengan entengnya neng jawab 20 Februari 2020. Penyebutan tanggal itu ngasal sih sebenarnya, karena tanggalnya cantik. Sesederhana itu. 

Panik kan sekarang wkwkwkkw... Saat tanggal yang dimaksud sudah hitungan hari tapi tidak ada tanda tanda pernikahan. Jangankan tanda, kepikiran aja belom mungkin hehehe... Terus mungkin teman-teman akan bertanya, kalau gak kepikiran mengapa menyebut tanggal itu?

Jawabannya ada 2 karena mekanisme pertahanan diri dan sebagai doa. Mekanisme pertahanan diri, dengan jawaban demikian orang kemudian akan berhenti bertanya aneh-aneh. Dan sungguh itu berhasil untuk neng. Jadi tips juga nih buat teman-teman yang selalu dapat pertanyaan "kapan nikah?" Jawab aja dengan tanggal ngasal. Pasti dijamin pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang. Digantikan dengan pertanyaan "Mana calonnya? Atau dapet orang mana?" Wkwkkwkw...

Yang kedua sebagai doa. Iya, meskipun secara khusus neng tidak pernah memikirkan tentang jodoh atau apalag, tapi sebagai perempuan biasa neng merindukan sosok yang bisa dijadikan tempat bersandar. Salah? Tentu tidak. Dan jawaban tentang tanggal itu memang doa yang neng sebutkan secara lantang. 

Tapi apakah itu cukup? Tidak cukuuup Marimaar... Ada ratusan bahkan ribuan doa yang terbisik ke bumi dan terhembus bersama angin. Apakah dengan demikian apakah doa neng otomatis terkabul. Bisa bisa bisa... Tapi apa neng sudah siap jika doa itu terkabul? 

Nah Allah SWT itu bisa paham apakah kita sanggup dan siap jika doa doanya dikabulkan langsung. Kalo udah siap ya langsung terwujud, bisa juga ditunda sebentar, atau bahkan digantikan dengan yang jauuuuh lebih baik. Semua itu tetap berarti Allah SWT mewujudkan doa doa kita dengan hak prerogratif yang Ia miliki. Kapan dan di saat bagaimana tak bisa kita paksakan kehendak kita.

Ada dia dalam setiap doa neng. Lelaki tanpa nama, yang padanya neng gantungkan semua asa. Dia adalah jodoh terbaik dari Allah SWT untuk neng. Siapa, kapan, dan dengan cara apa dipertemukan, Kuasa Allah SWT yang menemukan. 

Pun teman-teman, jika melangitkan doa tentang apapun pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Tentunya setelah kita ikhtiarkan yang terbaik. 

Bagi neng, "waktu tunggu" ini adalah saatnya untuk mengupgrade diri dan memoles keimanan serta ketaqwaan. Mengapa? Karena Allah SWT sudah janjikan akan mempertemukan laki laki baik baik dengan perempuan baik baik. Karena neng mau jodoh terbaik dari Allah SWT maka neng juga harus jadi pribadi terbaik. Belajar dan terus berhijrah menjadi lebih baik setiap harinya. Betuuul taakk?

Keep spreading love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 32 of 366


Aku, Dia, dan Doa

by on February 01, 2020
Bismillahirrahmanirrahim Annyeonghaseyo yorobuun... Tadi pagi di akun Facebook neng, neng menulis tentang sesumbar yang selama ini neng ucap...
Annyeonghaseyo yorobuun...

Kali ini neng cuma mau berbagi catatan syukur akhir bulan. Satu hal sederhana yang InsyaAllah mulai dibiasakan sejak saat ini. Mengapa syukur perlu dicatat? Bagi neng yang kadang masih suka mengeluh sehari-hari, proses ini sangat membantu melatih diri agar tak mudah mengeluh. Agar neng tahu buanyaaak hal yang terjadi dalam hidup neng yang patut untuk disyukuri.

Baiklah neng akan mulai yaaak... Ini adalah banyak hal yang neng syukuri dalam hidup neng sepanjang bulan januari. 

🍁 Alhamdulillah sepanjang bulan ini neng dan mama jauh dari sakit sakit yang mengharuskan kami harus sambang dokter. Kalau cuma sakit sakit ringan alhamdulillah bisa sembuh dengan persedian obat di rumah dan juga istirahat.

🍁 Alhamdulillah InsyaAllah neng mulai lagi perjalanan belajar menjadi lebih baik. Salah satunya dengan menggunakan hijab kembali. Kali ini bukan hanya menutup aurat (InsyaAllah bukan atas desakan atau pengaruh orang lain) tapi juga mulai haus belajar tentang agama Islam lagi. Dari hal hal yang paling sederhana. Neng merasa kali ini benar-benar jatuh cinta dengan Allah SWT. 

🍁 Alhamdulillah melewati tanggal 4 januari tanpa drama. InsyaAllah tanpa penyakit hati dan tanpa amarah pada dia. InsyaAllah seterusnya bisa merasakan kedamaian dalam hati ini.

🍁 Alhamdulillah tersambung kembali silahturahim dengan teman - teman lama. Dan InsyaAllah akan membawa kebaikan bagi semuanya

🍁 Alhamdulillah banyak peluang dan pekerjaan yang terasa lebih lancar. Pekerjaan neng di dunia properti InsyaAllah semakin mantab menjejakkan diri. Mendapat kesempatan bekerjasama dengan banyak pihak, InsyaAllah bisa menjaga amanah. 

🍁 Alhamdulillah memiliki adek yang MasyaAllah luarbiasa perjuangannya demi keluarga neng. InsyaAllah segera bisa saling membahu dengannya menyelesaikan urusan rumah. Mohon doanya semoga dia segera diamanahi buah hati oleh Allah SWT, sehat, pernikahannya samawa, rezekinya berlimpah dan berkah

Semoga sedikit catatan syukur di atas bisa mewakili banyak peristiwa baik dan anugerah dalam hidup neng di bulan ini. 

Keep spread love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 31 of 366


Annyeonghaseyooo yorobuuun

Beberapa waktu lalu neng terhenyak dengan berita pembunuhan. Yang membuat terhenyak bukan hanya tentang kasus pembunuhannya. Tapi karena motif pembunuhannya. Menurut keterangan polisi pembunuh merasa sakit hati karena korban selalu menghina fisiknya hampir setiap hari. Karena mendapat perundungan itu, ia merasa sakit hati dan dendam hingga terjadilah pembunuhan itu.

Bullying dan Body Shaming, mungkin sudah sering terjadi di tengah tengah hidup kita. Tidak hanya di usia sekolah bahkan sampai usia dewasa, bullying dan body shaming masih sering kita temui. Ye kaaan... Jujur deh... Entah kita sebagai korban atau pelaku. 

"Wooohhh gajah lewat"
"Ga usah melok, ga kuat mobile kabotan awakmu"
"Nduuutt..."
"Heee keceeeeng"
"Mangano ta awak koyo biting"

Pernah dengar kalimat kalimat di atas diucapkan? Dari sekedar yang dibilang cuma becandaan tanpa ada niatan untuk bullying apalagi body shaming, sampai memang dengan sengaja berniat demikian. Namun, kebanyakan pelaku bullying atau body shaming bahkan tidak sadar telah melakukan hal yang salah. 

Karena apa?

Karena masyarakat menganggap bahwa hal hal itu bukan sesuatu yang serius atau berbahaya. Lagi-lagi karena balutan becandaan antara teman atau iseng bahkan. Padahal mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan berdampak serius pada mental korban. 

Neng adalah orang yang dari kecil kenyang dengan bullying dan body shaming. Dan sepanjang hidup jamak sekali neng temukan premis premis pembelaan dari pelaku. Awal awal aja stress, jadi insecure dengan diri sendiri, jadi kurang mencintai diri sendiri, dan banyak hal negatif lainnya. Hingga akhirnya neng kebal dan udah terbiasa dengan segala macam sebutan yang diterima. 

Tapi apakah semua korban seperti neng? Ga darling... Banyak orang di luar sana ga bisa "biasa biasa" saja, banyak orang di luar sana yang kemudian memeram luka dan sakit hati lebih lama. Yang kemudian mungkin berimbas pada kesehatan mentalnya. Seperti yang neng bilang tadi, di awal awal berasa insecure dll. Itu kalau neng, yang lain? Bisa saja berdampak lebih buruk. 

Masih ingat kasus siswa smp yang bunuh diri di Jakarta yang konon adalah korban korban bullying? Tak perlu lah neng jabarkan banyak kasus lainnya untuk menunjukkan bahayanya bullying dan body shaming. 

Lantas harus bagaimana? 

Belajar untuk menghargai orang lain bagaimanapun keadaan orang tersebut. Terlebih lagi yang penting adalah jangan mudah mengeluarkan kata kata buruk tentang orang, kita harus pandai menahan lisan atau tulisan. Karena lisan dan tulisan kita bisa setajam pedang kalau kita gagal mengendalikannya. 

Jangan dengan atas nama becanda atau iseng menjadi pembelaan kita boleh melakukan bullying dan body shaming. Bayangkan jika orang yang kalian rundung itu adalah orang yang kalian sayangi. Bayangkan jika ia tak melihat itu semua sebagai becandaan atau iseng dan merasakan sakit hati atau dendam. 

Keep spread love no hate
11:11 moment
Day 30 of 366

Neng Nunung




Too Much Noisy?
Bijaklah Menyaring Informasi di Masa Genting

Bulan pertama di tahun 2020 ini dunia benar benar dibuat tergopoh gopoh atau hanya sekedar dikagetkan dengan beberapa peristiwa. Mulai dari kebakaran hutan hingga banjir di Australia, ricuh penyintas di perbatasan Meksiko dan US, upaya penggulingan Donald Trump, banjir di Indonesia, skandal Garuda dan rentetan skandal pergundikannya, wabah Corona Virus, hingga demam Crash Landing on You. 

Yang terakhir ini cukup bikin neng megap megap lah ya... Kalo yang lain ga merasa yg sama yaaa mon maap... 

Ok balik serius hehhee... Salah satu yang banyak menyita ruang ruang media yang kita miliki sehingga penuh dengan informasi terkait adalah wabah Corona Virus. Neng gak akan membahas tentang virus ini dan segala macam teori konspirasi di baliknya. 

Neng akan fokus pada bagaimana kita sebagai pengguna media sosial atau penerima informasi harus bertindak menyikapi luapan arus informasi yang beredar. Karena banyak informasi yang akhirnya menjadi terlalu bising dan membingungkan. Yang kemudian berdampak pada kecemasan dan ketakutan masyarakat awam. 

Apa yang bisa kita lakukan pada masa masa seperti ini? 

1. Teliti Sumber Informasi
Di masa masa genting, neng yakin akan baanyaak sekali muncul informasi A-Z tentang perkembangam wabah Corona Virus. Atau yang banyak muncul broadcast adalah obat obat atau cara pengobatan dan pencegahannya. Nah, sebagai penerima informasi kita wajib meneliti sumber informasinya. Valid atau tidak. Hal ini penting karena sumber informasi yang valid akan berdampak pada kredibilitas dan tingkat kebenaran informasi tersebut. 

Namun, ketika sumber informasi sudah valid, misal dari media portal berita atau media mainstream seperti tv, koran, dll kita juga tetap wajib melakukan step ke 2. 

2. Crosscheck Validitas Informasi
Kadang pernah kan kita menemukan berita di portal online masih diragukan validitas informasinya. Bahkan kadang informasi dari media mainstream pun saling tumpang tindih bergantung narasumber yang mereka dapatkan.

Nah tugas kita kemudian adalah memastikan validitas informasi. Crosscheck dengan media yang berbeda. Narasumber berbeda. Atau jika memungkinkan bertanya pada ahli. Misal di Twitter banyak sekali dokter atau peneliti bahkan mahasiswa yang masih berada di Wuhan China yang berbagi informasi valid. Kita bisa meluangkan waktu menyimak utas info yang mereka sampaikan atau bahkan menanyakan langsung pada mereka. 

3. Bagikan Tanpa Opini Pribadi 
Jika sumber informasi valid dan informasi juga sudah kita pastikan benar baru deh boleh kita bagikan. Kalau bisa tanpa menambahkan opini pribadi yang memungkinkan penafsiran yang berbeda lagi. Kecuali memang kita expert di bidang tersebut. 

Karena sekarang ini, banyak sekali yang membagikan informasi kemudian ditambahi caption yg nyinyir atau menggiring opini yang "menyesatkan" pembaca menerima informasi yang benar. Padahal mungkin mereka yang membagikan informasi belum tentu paham. 

4. Jangan Membiaskan Informasi Demi Kepentingan Tertentu
Dengan dalih membagikan informasi kemudian dibumbui informasi yang membuat bias informasi, bolehkah? Secara etikanya sih tidak boleh. Tapi itu hak masing-masing. Namun, coba kita bayangkan mungkin saja di luar sana ada yang membutuhkan informasi yang valid kemudian ketemunya berita yang kita bagikan. Bias pula informasinya dibumbui nyinyiran, ujaran kebencian, dll. Kan kasihan... 

Kalau tidak bisa membagikan informasi yang benar dan valid lebih baik hentikan informasi itu di kamu. Jangan kotori beranda informasi orang lain dengan hal hal negatif dari kamu. Berhenti saja di kamu. 

Bijak menggunakan media sosial, bijak dalam membagikan informasi. 

Keep spread love
Neng Nunung
#sebelassebelasmoment
11:11 moment
Day 29 of 366

ps : series 11:11 moment juga bisa dibaca di Facebook saya. Day 1-28 akan diupdate menyusul di blog ini juga... 




Annyeonghaseyoo Yourobuun

Tahu gak gengs kalo kecerdasan anak itu menurun dari Ibunya? Ada nih penelitian yang menyatakan bahwa kecerdasan seseorang terletak di kromosom X. Karene secara genetik perempuan membawa dua kromosom X maka kecerdasan anak sebagian besar berasal dari ibunya. Namun tentu tidak sepenuhnya menurun, masih ada faktor dari lingkungan, asupan gizi, atau dari ketekunan si anak sendiri dalam pendidikan dan bagaimana ia mengasah kecerdasan itu sendiri.

Tapi eh tapiiii… ada satu hal lagi nih kenapa ibu adalah sumber kecerdasan anak. Al - Ummu Madrasatul Ula Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Peranan ibu sangat terasa pada usia emas anak. Pendidikan ibu di rumah yang mampu merangsang tumbuh kembang anak secara maksimal sangat berperan pada kecerdasan sang anak di masa mendatang.  

Kalo soal genetik, udah lah yah kita tidak bisa ganggu gugat. Tapi poinnya adalah bagaimana kita sebagai seorang ibu mengedukasi diri sendiri menjadi ibu yang cerdas dan bahagia. Jika kita terdukasi dengan baik dan juga selalu bahagia dalam hidup, kita akan mampu mengawal pendidikan anak dan merangsang tumbuh kembang dan kecerdasan anak dari rumah di masa masa usia emasnya.

Setiap ibu pasti ingin memiliki anak-anak yang cerdas, kan? Yang harus disiapkan adalah kitanya dulu nih, sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, kita yang harus cerdas dulu, kita yang harus bahagia dulu. Nah sekarang gimana sih biar kita bisa lebih bahagia dan cerdas? Di bawah ini ada beberapa kuncian agar kita bisa lebih bahagia dan cerdas versi neng yang mungkin bisa memberikan inspirasi buat gengs semua.

Berhenti Berharap Penilaian Baik dari Orang Lain
Ini hal yang pertama harus dilakukan oleh kita agar lebih bahagia, berheti berharap penilaian baik dari orang lain. Jangan melakukan sesuatu agar dinilai baik. Karena orang lain akan selalu menemukan “kekurangan” dari apa yang kita capai atau lakukan. Sekali dua kali mungkin kita akan baik baik saja, namun jika terus terusan akan membuat kita tertekan dan tidak bahagia. Kita akan gampang “kepikiran” saat melakukan sesuatu, apakah itu sesuai dengan penilaian orang lain atau tidak.

Misal, dalam memilih sekolah untuk anak. Pilih sekolah sesuai dengan kriteria yang kita buat sendiri entah itu faktor jarak, biaya, kurikulum, basis pendidikan agama atau umum, dan banyak kriteria lain yang kita buat sendiri. Jangan memilih sekolah hanya karena teman-teman dekat atau teman arisan menyekolahkan anaknya di sana. Karena belum tentu sistem nilai dan kriteria kita sama dengan mereka.

Membaca Sebanyak Mungkin dari Berbagai Sumber Bacaan
Membaca ini wajib sih menurut neng, biar otak gak kosong. Mau kita hobi membaca atau tidak, membaca wajib dilakukan oleh semua perempuan atau ibu. Mau itu buku, majalah, tabloid, media daring, sosial media, atau apapun sumber bacaannya. Wajib terus menerus memperbarui diri dengan informasi terkini. Jangan tanya “buat apa sih neng, kita kan ibu rumah tangga?” Justru karena kita ibu rumah tangga, kita harus well educated. Tidak harus berpendidikan dari lembaga pendidikan formal tapi bagaimana kita mampu menyerap dan mengolah informasi yang kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan. Fungsinya untuk apa? Ya agar kita memberikan pendampingan dan pengajaran yang baik bagi anak. Bukankah Ibu adalah madarasah pertama seorang anak. Jangan sampai kita menjadi ibu yang lebih percaya mitos dan hoax yah.

Jangan Berhenti Belajar Apapun
Ini ada hubungannya dengan poin di atas yah. Ibu ibu jangan berhenti belajar apapun. Karena kita tahu kurikulum pendidikan anak semakin hari semakin “sulit” bahkan mungkin bagi kita orang tua kan. Sebagai ibu kita tidak boleh lelah untuk belajar. Entah itu belajar tentang pelajaran sekolah anak-anak, belajar tentang dunia psikologi agar bagaimana tahu menghadapi anak-anak, belajar tentang parenting, atau belajar tentang apa saja yang tujuannya untuk mengkayakan ilmu untuk diri sendiri. Sehingga saat kita mendampingi anak belajar atau sedang bercakap cakap kita bisa memahami dunia mereka. Kita bisa mengimbangi apa yang sedang mereka bicarakan. Kalau sudah demikian, anak semakin dekat dengan kita. Tambah bahagia kan?

Jangan Suka Membandingkan
Ini salah satu BIG NO buat dilakukan. Jangan suka membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Perkembangan anak kita dengan anak orang lain. Ukuran kebahagiaan kita dengan kebahagiaan orang lain. Hidup dengan nilai dan standar hidup yang kita miliki. Dengan mengurangi bahkan menghilangkan banding membandingkan ini dijamin deh kita bisa lebih mudah bahagia. Bersyukur dengan apapun yang kita miliki, karena semakin banyak kita bersyukur hati kita jauh lebih tenang dan bahagia.

Again and Again Me Time
Bosen kali yah teman-teman yang membaca tulisan neng beberapa waktu terakhir bahasnya me time mulu. Hehehe… Bagaimana dong emang me time itu membuat kita bisa lebih relax dan bahagia. Meskipun sejenak waktu me timenya, mampu mengurangi tingkat stress yang dihadapi oleh kebanyakan ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Coba deh baca artikel tentang Me Time ini untuk dapat ide bagaimana cara me time yang menyenangkan.

Naaah… Jadi keep happier yah moms, karena kalo kita bahagia anak-anak akan jauh bahagia dan jadi sosok yang cerdas.

Jangan lupa bahagia…






Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'




Annyeong haseyooo Yourobuuun

Masih inget gak salah satu tips yang kasih agar moms gak baperan kemarin? Belum baca artikelnya?? ish ish ish sila dibaca di sini yah


Nah kalau sudah baca, salah satu tips yang neng bagikan itu adalah menyempatkan me time. Me time buat moms selain bikin ga jadi baperan masih ada loh manfaat lainnya. Yuuk kita rumpiin satu per satu.  

Recharge Energi dan Mood
Selain bikin kita ga baperan, me time itu kaya recharge energi gitu. Bayangkan kalau kita ini semacam gawai yang dipakai terus menerus tanpa henti, baterenya pasti aus kan. Tubuh kita juga gitu, tubuh kita perlu sesekali diistirahatkan untuk semakin semangat menjalankan aktifitas setelahnya. Coba deh selipin me time sesekali di tengah keriuhan hari itu, selepasnya pasti lebih segar dan semangat lagi untuk beraktifitas kembali. Kita akan mampu berkonsentrasi dan fokus untuk melanjutkan pekerjaan.

Bentuk Rasa Terima Kasih Pada Diri Sendiri
Menyelipkan me time di tengah- tengah kesibukan kita sehari hari itu salah satunya berfungsi sebagai bentuk terima kasih pada diri sendiri. Mengapa demikian? Kadang kita “memaksa” diri melakukan hal-hal yang mungkin belum pernah dilakukan. Atau kita berhasil dengan pencapaian terbaik kita dan masih banyak hal hebat yang kita lakukan setiap harinya. Naah, perlu tuh kita memberikan reward pada diri kita sendiri. Nanti kita bahas yah Me Time apa saja yang bisa kita berikan pada diri sendiri   

Mengurangi Stress atau Depresi  
Ini yang terpenting, me time ini mengapa penting, kalau bahasa kasarannya me time ini perlu agar membuat neng tetap waras. Hehehe… Iya loh beneran, kalau kita “memaksa” tubuh dan pikiran melakukan banyak kegiatan secara terus menerus. Hanya berhenti saat makan, tidur, mandi, ibadah tanpa menyediakan waktu “menenangkan diri”, kita cenderung mudah stress dan depresi. Me time ini sebenarnya sebagai salah satu cara untuk kontrol diri. Dan patokannya ya diri kita, kalau alarm stressnya sudah nyala, take a break for awhile.

Namun, neng sadar banget deh me time untuk seorang ibu rumah tangga atau ibu bekerja itu seperti sesuatu yang mewah banget. Karena mungkin banyak di antara kita yang tidak bisa leluasa meluangkan waktu sejenak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kita inginkan untuk me time. Neng sudah tanya juga nih di grup Khadeeja Property yang isinya adalah mamak mamak keren yang menjadi marketing properti syariah. Tentang Me Time apa sih versi mereka. Dan jawaban yang mencengangkan adalah banyak yang hanya kegiatan-kegiatan sederhana. Apa saja itu? Yuk simak di bawah ini

ü Waktu mandi yang lebih lama
ü Bisa tidur siang sebentar
ü Ke salon untuk facial atau creambath
ü Makan mi instan gak sampai ngembang
ü Baca buku tanpa interupsi dari anak
ü Jalan-jalan dengan suami dan anak
ü Belanja kebutuhan bulanan
ü Masak
ü Nonton drama Korea atau variety show Korea
ü Menulis
ü Mengaji
ü Minum kopi perlahan-lahan sambil duduk menikmati waktu
ü Melakukan hobi

Hal hal sederhana kan? Cuma kadang yang sederhana ini juga susah sekali didapatkan oleh seorang ibu. Namuuun… Agar kita tetap waras ya gengs perlu banget deh beneran sempilin beberapa meniiit saja untuk me time and then your stress will release. try it.

Jangan lupa bahagia







Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'


  
   


Annyeonghaseyo yorobuun

Hai hai hai… Selamat Hari Ibu yah untuk semua Moms yang ada di dunia dan membaca blog ini. Menjadi Moms bukan hanya seseorang yang melahirkan seorang anak. Tapi juga bagi mereka para perempuan yang mencurahkan perhatian, kasih sayang, ilmu atau segala yang dia miliki untuk orang lain. Mereka juga layak disebut Moms dan mendapatkan penghargaan malam ini.

Neng tuh sadaaar banget tugas sebagai Moms itu mahaaaa dahsyat dan melelahkan. Baik itu Moms bekerja atau Moms rumah tangga, keduanya memiliki tantangan dan tanggung jawab masing-masing. Di tengah perjuangan setiap hari yang terkesan tanpa henti itu, kadang seorang Moms dituntut untuk selalu siap dan siaga untuk segala hal. Entah itu pekerjaan rutin Moms rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, mengatur keuangan rumah tangga, mengurus kebutuhan suami, dan banyak lagi. Atau bagi Moms bekerja harus profesional menyelesaikan tanggung jawab kerja di kantor, tapi masih kepikiran apa yang terjadi di rumah, lelah pulang kerja masih harus menyiapkan energi ekstra dan full untuk mengurus rumah, bertemu anak-anak, mengurus suami, dan lain lain.

Melelahkan ya moms? Moms semuanya luar biasa loh, neng saluuut banget…

Menghadapi tantangan dan tanggung jawab yang besar setiap harinya pasti sangat melelahkan, menguras energi, tenaga, pikiran, dan emosi. Pernah gak sih saking capeknya karena rutinitas setiap harinya, Moms merasa bapeeerr banget. Kalo pernah, jangan berkepanjangan moms… Karena Moms yang bahagia itu sumber kebahagiaan keluarga dan rumah. Bagaimana tuh ceritanya kalo Ibunya baper mulu, moody, anak anak pasti juga ikutan suntuk kan di rumah.

Neng ada beberapa resep jitu untuk membuat baper Moms pergi wush wush wusshh jauuh bangeet. Mau tahu? Yuk simak di bawah ini.

Bikin To Do List Harian
Membuat to do list harian secara disiplin ini sangat membantu Moms untuk menjalani rutinitas harian. Moms bisa memperhitungkan berapa lama durasi tiap perkerjaan sehingga kita bisa tahu pekerjaan mana yang urgent dikerjakan lebih dulu. Selain itu dengan membuat to do list kita bisa juga mempertimbangkan waktu istirahat.
Menyelipkan waktu istirahat ini penting untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran Moms dari penat. Nah selain itu, fungsi to do list ini juga membantu moms lebih kreatif membuat kegiatan di rumah atau pekerjaan di rumah lebih variatif dan menyenangkan. Coba deh bikin to do list harian di malam sebelumnya untuk pekerjaan esok hari. Dan disiplin dengan timeline yang dibuat, memang kejadian sehari-hari bisa unpredictable. Tetapi setidak terduganya pekerjaan di hari itu, paling tidak kita punya pegangan to do list, mana yang bisa dikurangi, ditunda, atau digeser waktunya.
  
Libatkan Anak dan Suami untuk Menghidupkan Rumah
Kalau sudah ada to do list harian, saatnya untuk melibatkan “orang rumah” untuk menciptakan rumah lebih bahagia dan homey. Melibatkan anak dan suami untuk ikut berpartisipasi menghidupkan rumah ini penting banget untuk kesehatan mental dan batin moms heheheh… Peranan mereka bukan sekedar berbagi tugas rumah yah. Tapi lebih dari itu, membuat mereka merasa terikat dan ikut bertanggung jawab membuat rumah lebih menjadi nyaman ditinggali bersama.

Misal, mengajarkan anak sedari kecil membereskan mainannya setelah bermain, meletakkan pakaian kotor setelah dipakai di tempatnya, atau hanya sekedar belajar sikat gigi atau pup sendiri. Kalau anak belajar mandiri dari kecil, dia cenderung gak terlalu merepotkan moms. Tapi namanya anak pasti ada momen manja ya moms, thats okay. Yang penting moms mulai dini mengajarkan mereka untuk melakukan hal hal kecil yang bisa ia lakukan.

Selain itu, melibatkan anak dan suami untuk menghidupkan rumah bisa juga dengan membuat kegiatan bersama di rumah yang menyenangkan. Misal, bermain drama bersama sambil membaca buku cerita, indoor camping barengan, memasak bareng, dan masih banyak kegiatan lainny. Intinya mah gimana moms kreatif bikin anak sama suami selalu kangen ama rumah lah.

Hectic? Alihkan Fokus Sesaat 
Misal nih, dari pagi sampai siang moms hectic banget ama kerjaan di rumah. Coba deh alihkan fokus sesaat, bisa dengan cara apa saja. Salah satu yang bisa dilakukan, kalau moms seorang muslim bisa dengan sholat. Di waktu sholat ini berikan waktu lebih panjang untuk berdiam diri dan menenangkan diri. Ini buat neng ampuh melepaskan stress dan menenangkan diri saat suasana hectic.

Cara lain yang bisa moms lakukan bisa dengan menyeduh teh dan meminum teh sambil duduk. Atur nafas dengan perlahan, sesekali pejamkan mata sejenak. Tidak perlu lama cukup 5-10 menit, relaxkan pikiran dan tubuh sesaat. Kalau sudah relax, moms bisa lanjutkan pekerjaan rumah sesuai to do list yang sudah dibuat.

Selipkan Me Time, Paling Tidak Sebulan Sekali
Untuk me time ini agak tricky solution karena neng akui moms di luar sana pasti kesulitan memiliki waktu me time. Mungkin karena kesibukan atau memang anak-anak yang ga mungkin ditinggal begitu saja, entah itu dititipkan ke suami yang libur, atau orang tua, atau sekedar ART di rumah. Tapi, menyelipkan waktu me time di tengah rutinitas harian moms itu berguna banget untuk mengusir kebaperan moms loh.
Apa saja bentuk me time nya? Apa saja yang membuat moms benar-benar relax dan refresh. Bisa dengan perawatan tubuh ke salon, melakukan hobi moms, nonton film, ketemu teman-teman, belanja, atau apa saja kegiatan yang mengisi energi moms untuk penuh lagi. Gak harus dikerjakan di luar rumah, misal mau bikin kegiatan di dalam rumah yang beneran bisa me time ala moms pun bisa. Coba deh cari tahu apa saja kegiatan yang moms sukai yang kalau moms kerjain moms bisa refresh banget setelahnya. Then do it.

Di atas beberapa resep jitu ala neng yah Moms. Semoga bermanfaat. Yang patut diingat sih, kalau moms bahagia, anak anak dan suami juga pasti bahagia. Suasana rumah juga pasti lebih menyenangkan. Kalau sudah demikian, moms akan jauh lebih bahagia kan?

Jangan lupa bahagia


    


Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'  




Annyeong haseeyoo Yorobuun

Belakangan ini, isu tentang kesehatan mental dan masalah psikologis marak dibicarakan. Termasuk tentang baby blues syndrom atau dikenal juga dengan istilah postpartum distress syndrom. Jika dulu orang terkesan tabu membahas tentang masalah kesehatan mental atau psikologisnya entah kepada dokter atau orang orang terdekat, kini agaknya banyak orang mulai terbuka. Bahkan membahasnya di depan umum, dikaji dalam seminar atau talk show atau sekedar berbagi dengan orang orang terdekat.

Hal ini tentu dampak dari semakin tingginya kesadaran banyak orang akan permasalahan kesehatan mental. Terlebih baby blues syndrom ini layaknya gunung es. Jumlah kasus yang muncul di permukaan masih sedikit jika dibanding banyaknya jumlah ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan di luaran sana. Kebanyakan dari mereka bukan tidak mau berkonsultasi atau mencari bantuan, tapi kadang alasannya sesederhana karena mereka atau kita sendiri tidak menyadari dan memahami apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebenarnya apa sih baby blues syndrom itu?

Baby blues syndrom sendiri banyak diartikan sebagai sebuah kondisi psikologis dan emosional yang dialami oleh seorang ibu setelah mengalami proses melahirkan. Ibu yang mengalami baby blues syndrom cenderung merasakan emosi, merasa lelah fisik dan mental yang berlebihan, lebih sensitif dari sebelumnya.

Apakah semua ibu mengalami baby blues syndrom setelah melahirkan? Tidak semuanya, namun menurut data yang dikaji di berbagai negara menunjukkan 50-75% ibu mengalami baby blues syndrom. Data ini termasuk yang terjadi di Indonesia. Namun, beberapa ahli menyebutkan di Indonesia jumlah temuan kasus baby blues syndrom ini belum seberapa.
Dalam sebuah artikel di Kompas, Psikolog Fonda Kuswandi, S.Psi., yang juga praktisi hypno-birthing, hypnobreastfeeding, dan hypnoparenting menyatakan setelah melahirkan, hormon-hormon kehamilan menurun drastis. Lalu, diganti dengan produksi hormon-hormon untuk menyusui. Fluktuasi hormonal dalam tubuh inilah yang dapat menimbulkan efek kurang nyaman. Alhasil memicu perasaan-perasaan negatif.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan perasaan bersalah terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Kurangnya edukasi tentang bagaimana peran peran sebagai ibu, rasa takut salah memperlakukan anak yang baru dilahirkannya, depresi karena merasa lelah sendirian, dan banyak emosi negatif lainnya.

Namun, sedikit dari ibu yang mengalami baby blues syndrom ini berkonsultasi ke psikolog atau psikiater karena minimnya kesadaran dari supporting system dari ibu yang baru melahirkan itu juga. Di Indonesia, masih ada kultur yang menganggap biasa perubahan emosional pada ibu setelah melahirkan. Serta edukasi tentang sindrom ini ataupun permasalahan kesehatan mental lainnya masih belum merata diterima oleh masyarakat.

sumber : tempo.co


Apa tanda tanda seorang ibu mengalami baby blues syndrom?

Yang paling jamak terjadi adalah perubahan emosional yang signifikan. Beberapa ciri yang sering ditemui sebagai berikut.
- Mudah sedih atau sedih berkepanjangan
- Perasaan bersalah
- Mudah marah
- Merasa terlalu lelah atau cepat lelah
- Merasa takut berlebihan
- Merasa kurang istirahat
- Perasaannya terlalu sensitif
Dan masih banyak ciri lainnya. Coba dicek deh apakah kita atau orang orang yang kita kenal mengalami ciri di atas. Kalau iya maka kemungkinan kita atau mereka mengalami baby blues syndrom.


Berbahayakah seorang Ibu yang mengalami baby blues syndrom? Dan bagaimana cara terbaik menanganinya?        

Berbahaya atau tidak sangat bergantung pada bagaimana kesadaran si ibu. Apakah ia menyadari jika apa yang dialami itu sesuatu sindrom yang memerlukan penanganan? Apakah ia mampu mengendalikan emosi atau pikiran negatif yang ia rasakan? Namun, yang menjadi bahaya adalah ketika dia tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Serta lingkungan sekitarnya tidak memberikan dukungan positif ini akan berpotensi terjadinya depresi berkepanjangan. Kita tentu ingat beberapa kasus yang muncul di permukaan seorang ibu yang membunuh anak yang baru ia lahirkan atau seorang ibu yang bunuh diri bersama anaknya. Ini adalah contoh kecil dari bahayanya baby blues syndrom yang tidak tertangani dengan benar.

Di sinilah peranan lingkungan sekitar sebagai supporting system penting. Suami, orang tua, keluarga, teman dan inner circle lainnya dari ibu yang baru melahirkan. Supporting system harus memahami tanda tandanya dan segera tanggap mendampingi, meringankan beban, dan terutama mencarikan bantuan medis. Ajak si Ibu berkonsultasi ke psikolog atau psikiater dan jangan pernah malu melakukannya. Ini juga pesan yang hendak disampaikan Film Korea Kim Ji-young Born 1982 yang diperankan oleh Gong Yoo dan Jung Yu-mi (ulasan film ini akan neng tuliskan di post berbeda), bahwa peran suami dan lingkungan sekitar saat penting dalam masalah kesehatan mental yang dialami oleh seorang istri. Jika memang sudah ada tanda-tanda, maka datang ke ahli untuk mendapatkan saran dan pertolongan medis adalah pilihan yang paling tepat.

Jadi, sekarang mulai peka pada apa yang terjadi pada diri kita sebagai seorang perempuan dan juga mungkin orang di sekitar kita. Semakin cepat masalah kesehatan mental atau baby blues syndrom ini diketahui maka dampak negatifnya akan sangat jauh berkurang.

Jangan lupa bahagia.  





Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'   



Annyeong haseyo Yoerobuun…

Tanggal 1 Juni 2019 kemarin rakyat Indonesia menerima kabar duka dari keluarga Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ibu Ani Yudhoyono yang dirawat di National University Hospital Singapore karena penyakit kanker darah dikabarkan telah berpulang ke Rahmatullah. Setiap orang yang mendengar kabar ini tentunya terkejut dan tidak menyangka akan secepat itu kepergian beliau.

Seperti yang kita tahu, keluarga besar SBY baru mengetahui tentang penyakit yang mendera bu Ani di awal 2019. Dikabarkan berawal dari menurunnya kondisi kesehatan bu Ani seusai mendampingi SBY dalam lawatan ke Sumatera Utara dan Aceh pada awal 2019. Bu Ani kemudian menjalani pemeriksaan fisik dan cek laboratorium di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter kepresidenan pun merujuk Ani Yudhoyono untuk dirawat di Singapura. Tepatnya di National University Hospital, beliau mendapatkan perawatan sejak 2 Februari 2019.

sumber : inews
Sejak awal didiagnosis hingga meninggalnya beliau, praktis kurang lebih enam bulan saja beliau berjuang untuk fight melawan penyakit kanker darah yang beliau derita. Sejak awal bu Ani Yudhoyono mengetahui bahwa ada kanker bersarang di tubuhnya, beliau menunjukkan semangatnya yang tak padam. Pada keterangan profil akun instagram beliau pun, bu Ani Yudhoyono menulis “Insya Allah, I will never give up fighting this cancer”

Jenazah bu Ani Yudhoyono diberangkatkan dari Singapura dengan pesawat Hercules menuju bandara Halim Perdana Kusuma pada hari Senin tanggal 1 Juni 2019 malam. Setelah disemayamkan semalam di Cikeas, kediaman keluarga SBY, pemakaman akan dihelat pada hari Minggu siang tanggal 2 Juni 2019 di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Mereka yang Kehilangan Belahan Jiwa

Jujur berita meninggalnya bu Ani Yudhoyono kemarin membuat tanggal 1 Juni semakin suram. Tepat kemarin almarhum Papa telah setahun pergi. Jadi melihat tayangan update berita tentang bu Ani dan pak SBY itu airmata gak berhenti untuk mengalir. Lebay? Biarin… Tapi memang melihat dua orang yang saling mencintai terpisah karena maut itu sesuatu yang bikin dada neng meledak ledak. Termasuk ketika mama begitu kehilangan almarhum Papa.

sumber : idntimes
Tapi melihat laki laki yang terbiasa tegar dan tidak menunjukkan emosi berlebihan yang menangis begitu merasa kehilangan belahan jiwanya itu membuat neng ga bisa berkata apa apa. Cuma bisa ikut merasakan pedihnya kehilangan. Coba lihat bagaimana pak Habibie kehilangan ibu Ainun, atau yang baru saja kita lihat kemarin begitu kehilangannya pak SBY.

Lantas terbersit rasa iri, akankan nanti jika neng pergi ada laki-laki tegar yang akan sebegitu kehilangannya seperti beliau berdua kehilangan belahan jiwanya. Mulai ngaco kan ya… Cuma mendapatkan jodoh yang hanya terpisah oleh maut itu pasti impian semua orang. Termasuk neng.

40 tahunan pernikahan pak SBY dan bu Ani tentu telah terukir banyak kenangan indah di ingatan pak SBY. Semua luka kehilangan akan sembuh seiring waktu. Yang dibutuhkan beliau adalah support system dari keluarga dan orang orang di sekelilingnya.

Selamat jalan bu Ani Yudhoyono… Innalillahi wainnailaihi rojiun…