Perlukah Kita Waspada tentang Baby Blues Syndrom?




Annyeong haseeyoo Yorobuun

Belakangan ini, isu tentang kesehatan mental dan masalah psikologis marak dibicarakan. Termasuk tentang baby blues syndrom atau dikenal juga dengan istilah postpartum distress syndrom. Jika dulu orang terkesan tabu membahas tentang masalah kesehatan mental atau psikologisnya entah kepada dokter atau orang orang terdekat, kini agaknya banyak orang mulai terbuka. Bahkan membahasnya di depan umum, dikaji dalam seminar atau talk show atau sekedar berbagi dengan orang orang terdekat.

Hal ini tentu dampak dari semakin tingginya kesadaran banyak orang akan permasalahan kesehatan mental. Terlebih baby blues syndrom ini layaknya gunung es. Jumlah kasus yang muncul di permukaan masih sedikit jika dibanding banyaknya jumlah ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan di luaran sana. Kebanyakan dari mereka bukan tidak mau berkonsultasi atau mencari bantuan, tapi kadang alasannya sesederhana karena mereka atau kita sendiri tidak menyadari dan memahami apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebenarnya apa sih baby blues syndrom itu?

Baby blues syndrom sendiri banyak diartikan sebagai sebuah kondisi psikologis dan emosional yang dialami oleh seorang ibu setelah mengalami proses melahirkan. Ibu yang mengalami baby blues syndrom cenderung merasakan emosi, merasa lelah fisik dan mental yang berlebihan, lebih sensitif dari sebelumnya.

Apakah semua ibu mengalami baby blues syndrom setelah melahirkan? Tidak semuanya, namun menurut data yang dikaji di berbagai negara menunjukkan 50-75% ibu mengalami baby blues syndrom. Data ini termasuk yang terjadi di Indonesia. Namun, beberapa ahli menyebutkan di Indonesia jumlah temuan kasus baby blues syndrom ini belum seberapa.
Dalam sebuah artikel di Kompas, Psikolog Fonda Kuswandi, S.Psi., yang juga praktisi hypno-birthing, hypnobreastfeeding, dan hypnoparenting menyatakan setelah melahirkan, hormon-hormon kehamilan menurun drastis. Lalu, diganti dengan produksi hormon-hormon untuk menyusui. Fluktuasi hormonal dalam tubuh inilah yang dapat menimbulkan efek kurang nyaman. Alhasil memicu perasaan-perasaan negatif.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan perasaan bersalah terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Kurangnya edukasi tentang bagaimana peran peran sebagai ibu, rasa takut salah memperlakukan anak yang baru dilahirkannya, depresi karena merasa lelah sendirian, dan banyak emosi negatif lainnya.

Namun, sedikit dari ibu yang mengalami baby blues syndrom ini berkonsultasi ke psikolog atau psikiater karena minimnya kesadaran dari supporting system dari ibu yang baru melahirkan itu juga. Di Indonesia, masih ada kultur yang menganggap biasa perubahan emosional pada ibu setelah melahirkan. Serta edukasi tentang sindrom ini ataupun permasalahan kesehatan mental lainnya masih belum merata diterima oleh masyarakat.

sumber : tempo.co


Apa tanda tanda seorang ibu mengalami baby blues syndrom?

Yang paling jamak terjadi adalah perubahan emosional yang signifikan. Beberapa ciri yang sering ditemui sebagai berikut.
- Mudah sedih atau sedih berkepanjangan
- Perasaan bersalah
- Mudah marah
- Merasa terlalu lelah atau cepat lelah
- Merasa takut berlebihan
- Merasa kurang istirahat
- Perasaannya terlalu sensitif
Dan masih banyak ciri lainnya. Coba dicek deh apakah kita atau orang orang yang kita kenal mengalami ciri di atas. Kalau iya maka kemungkinan kita atau mereka mengalami baby blues syndrom.


Berbahayakah seorang Ibu yang mengalami baby blues syndrom? Dan bagaimana cara terbaik menanganinya?        

Berbahaya atau tidak sangat bergantung pada bagaimana kesadaran si ibu. Apakah ia menyadari jika apa yang dialami itu sesuatu sindrom yang memerlukan penanganan? Apakah ia mampu mengendalikan emosi atau pikiran negatif yang ia rasakan? Namun, yang menjadi bahaya adalah ketika dia tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Serta lingkungan sekitarnya tidak memberikan dukungan positif ini akan berpotensi terjadinya depresi berkepanjangan. Kita tentu ingat beberapa kasus yang muncul di permukaan seorang ibu yang membunuh anak yang baru ia lahirkan atau seorang ibu yang bunuh diri bersama anaknya. Ini adalah contoh kecil dari bahayanya baby blues syndrom yang tidak tertangani dengan benar.

Di sinilah peranan lingkungan sekitar sebagai supporting system penting. Suami, orang tua, keluarga, teman dan inner circle lainnya dari ibu yang baru melahirkan. Supporting system harus memahami tanda tandanya dan segera tanggap mendampingi, meringankan beban, dan terutama mencarikan bantuan medis. Ajak si Ibu berkonsultasi ke psikolog atau psikiater dan jangan pernah malu melakukannya. Ini juga pesan yang hendak disampaikan Film Korea Kim Ji-young Born 1982 yang diperankan oleh Gong Yoo dan Jung Yu-mi (ulasan film ini akan neng tuliskan di post berbeda), bahwa peran suami dan lingkungan sekitar saat penting dalam masalah kesehatan mental yang dialami oleh seorang istri. Jika memang sudah ada tanda-tanda, maka datang ke ahli untuk mendapatkan saran dan pertolongan medis adalah pilihan yang paling tepat.

Jadi, sekarang mulai peka pada apa yang terjadi pada diri kita sebagai seorang perempuan dan juga mungkin orang di sekitar kita. Semakin cepat masalah kesehatan mental atau baby blues syndrom ini diketahui maka dampak negatifnya akan sangat jauh berkurang.

Jangan lupa bahagia.  





Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'   


2 comments:

  1. Kesadaran untuk berkonsultasi dengan yang ahli di negara kita ketika terkena baby blues ini masih rendah, Kalaupun ingin konsul keluarga terdekat biasanya tidak mendukung.
    Padahal kewarasan ibu sangat penting dalam keutuhan keluarga :'(
    Terima kasih mbak sudah membahas isu baby blues ini,

    -Admilidyasari.com-

    ReplyDelete
  2. Dulu aku juga ngalamin Baby Blue. Terutama karena lingkungan tempat tinggal ga begitu mendukung pemberian ASI. Jadi, kaya berjuang sendiri. Waktu itu nyari support system sendiri. Ketemu sama Mailing list pejuang ASI. Akhirnya bisa bertahan.

    ReplyDelete