Tuesday, February 4, 2020

Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Bismillah
Annyeonghaseyoo Yorobuun

Kali ini neng mau sharing tentang satu hal, KEPERCAYAAN. 
Teman teman pernah mendapatkan atau mengemban sebuah amanah, namun gagal menjaga kepercayaan itu? Sehingga mengecewakan sang pemberi amanah... Neng pernah, mungkin beberapa kali, secara neng sadari atau tidak, neng sengaja atau tidak. Apapun alasannya, neng pernah membuat kecewa. Mungkin bukan satu dua orang tapi banyak.

Tahu bagaimana rasanya? Kalau bisa mengutuki diri sendiri mungkin sudah banyak sumpah serapah yang neng keluarkan untuk diri sendiri. Marah dan malu yang terasa membakar wajah. Karena saat gagal mengemban amanah dan melukai serta mengecewakan orang lain itu mahal sekali harganya. 

Jika sekali seseorang dikecewakan untuk mengembalikan kepercayaanya kembali pada kita itu, perlu usaha yang lebih dari saat awal. Belum tentu juga kepercayaanya kembali utuh. Ibarat selembar kertas yang diremas remas. Lalu sekuat apapun kita membuatnya lurus lagi, rapi lagi, rata lagi. Mungkin bisa tapi tekstur kertasnya akan sama saja tidak bisa utuh seperti sebelum diremas. 

Lantas bagaimana jika kita suatu saat diberikan amanah, apa yang harus kita lakukan? 
Yang pertama, pelajari apakah kita MAU menerima amanah tersebut. 
Yang kedua, pastikan kita MAMPU menjaga dan menjalaninya. Analisis semua prosesnya apakah benar kita memiliki kapabilitas tersebut.
Yang ketiga, LAKUKAN YANG TERBAIK untuk membuktikan memang kita layak mendapatkan amanah tersebut. 
Yang keempat, JANGAN BERHENTI. Seberat apapun jangan berhenti. Jika ada kendala maka tugas kita cari solusi terbaiknya. Diskusikan dan minta masukan pada si pemberi amanah saat kendala itu muncul agar Ia mampu juga memberikan masukan solusi terbaik.

Poin keempat ini yang penting adalah proses komunikasi dari si pemberi amanah. Karena kuncinya adalah komunikasi. Pun jika di tengah jalan kita sudah merasa tidak mampu, maka jika komunikasi terjalin baik maka semua pihak akan memahami kendala yang kita hadapi. 

Percayalah mahal sekali harganya kalau kita harus mengembalikan kepercayaan yang hilang. Karena untuk membuktikan diri kita masih bisa dipercaya itu benar-benar butuh usaha ekstra. Jadii... Jaga terus apa yang telah dipercayakan padamu. Tunjukkan kalau memang kamu layak dipilih. 

Keep spreading the love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 35 of 366




Continue reading Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Monday, February 3, 2020

Mereka Masih Saudara Kita 😢

Bismillah
Annyeonghaseyoo yorobuun

Kangen euy padahal baru sehari jeda neng ga nulis. Selain karena kesibukan (eh ciyeee sibuuk) kemarin tuh neng tertegun dengan berita yang seliwar seliwer. Selain di linimasa, berita tersebut banyak muncul di televisi, portal berita, dan banyak lagi. Saat melihat berita itu kaya berasa sediih gitu. 

Berita apa sih neng? 

Ituh berita pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang selama ini terjebak di beberapa titik di China, terutama di Wuhan. Kota yang konon tempat bermulanya wabah virus Corona. Saat saudara-saudara kita itu masih di sana, banyak yang berkomentar kenapa sih tidak segera dievakuasi. Saat sudah dievakuasi dan pemerintah sudah menentukan tempat observasi yaitu di kepulauan Natuna melalui Batam muncul lagi reaksi dari warga sekitar. 😢

Jujur, neng shock melihat reaksi warga Natuna. Tapi sebenarnya paham juga sih. Di antara informasi yang simpang siur tentang wabah Virus Corona dan status kondisi WNI yang dipulangkan dari China ini menimbulkan ketakutan dari warga kepulauan Natuna. Neng juga paham kalo wakil bupati Natuna juga beberapa anggota DPRD bereaksi keras karena merasa Pemerintah pusat tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam penentuan lokasi observasi. Neng juga paham pendapat tokoh masyarakat yang juga koordinator aksi yang menanyakan mengapa Natuna yang dipilih sementara fasilitas kesehatan di Ibukota negara lebih lengkap dibanding Natuna. Neng juga mengerti ketakutan warga yang takut kalo wabah virus Corona akan menjangkiti di kepulauan Natuna apabila observasi WNI dari China dilakukan di sana. Neng juga sangat memahami kalau warga masyarakat kepulauan Natuna menginginkan adanya jaminan kesehatan nantinya.

Tapi... 

Reaksi masyarakat yang neng lihat di layar televisi atau portal berita internet itu membuat neng patah hati. Bagaimana massa yang menyerbu ingin masuk ke pangkalan militer di Natuna. Bagaimana mereka ingin mengusir 238 WNI yang dievakuasi dari China dan tidak mengizinkan saudara-saudara sebangsanya sendiri itu menginjakkan kaki di Natuna dengan alasan tidak mau tertular virus Corona. Bagaimana suasana menjadi ricuh, pembakaran ban, teriakan amarah, wajah penuh emosi dan masih banyak lagi reaksi yang membuat neng patah hati. 

Kalau penolakan itu dilakukan oleh WNA atau bukan saudara sebangsa sih mungkin bisa neng mengerti dan pahami. Tapi ini masih saudara sebangsa loh. Di KTP masih sama tulisannya kewarganegaraan Indonesia. Iya neng juga takut kok kalau tertular virus penyakit itu. Takut banget malah. Tapi kan ya pemerintah pasti sudah mengkalkulasi semua keputusan yang diambil. Termasuk dampaknya yang mungkin muncul di tempat lokasi observasi di lakukan. 

Presiden, Menteri Luar Negeri, Panglima TNI, Menteri Kesehatan, dan semua jajaran pasti punya alasan kuat mengapa memilih Natuna sebagai tempat observasi. Menurut Panglima TNI dari semua titik alternatif lokasi, Natunalah yang memiliki pangkalan militer dengan rumah sakit yang ada di bawah tiga Angkatan. Lokasi yang dipilih juga merupakan sebuah Hanggar yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tetap nyaman saat 238 WNI yang dievakuasi dari China itu diobservasi selama 14 hari kedepan. 

Menteri Kesehatan, dr. Terawan juga menekankan bahwa 238 WNI yang dievakuasi dalam keadaan sehat, tidak dalam keadaan demam, atau terindikasi terinfeksi virus Corona. Karena menurut dr. Terawan pemulangan 238 WNI itu sudah sesuai regulasi di China saat ini. Karena pemerintah China bahkan tidak akan memberikan izin keluar dari negaranya jika seseorang itu sedang mengalami sakit. Hal ini terbukti ada beberapa WNI yang tidak mendapatkan permit saat proses evakuasi dilakukan. 

Observasi selama 14 hari ini hanyalah upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan SOP yang ditetapkan oleh WHO, Prosedur Tetap (Protap) dari standar kesehatan militer yakni International Commitee Military Medicine (ICMM), dan peraturan militer. 

Kenapa kesannya tanpa koordinasi atau serba mendadak? 

Ya kalau neng pikir sih ini semata-mata karena alasan darurat. Dan semua keputusan yang diambil pasti sudah dipikirkan masak-masak oleh semua pihak. 

Ketakutan masyarakat Natuna neng pikir juga wajar muncul karena minimnya informasi yang terpercaya tentang wabah virus Corona dan penangananya oleh pemerintah. Lebih banyak hoax yang bertebaran. Di sini mungkin PR pemerintah untuk memberikan sosialiasi yang jelas pada masyarakat. Masyarakat harus mendapat asupan informasi yang tepat tentang bagaimana virus Corona, penyebarannya, bagaimana pencegahannya, dan banyak hal yang lain. Agar masyarakat ada gambaran dan tidak mengalami ketakutan yang berlebihan atau bahkan tidak peduli berlebihan. 

Di atas semua itu...
Neng cuma pengen bilang sih 238 orang yang sekarang diobservasi itu masih saudara kita loh. Atau bahkan di luar 238 orang itu, mereka yang pulang secara mandiri dari China. Mereka masih saudara kita. Bahkan jika mereka terinfeksi pun, mereka masih saudara kita. Menolak keberadaan mereka di dekat kita seolah olah merekalah virusnya itu menyakitkan hati. Bagaimana perasaan anggota keluarga mereka melihat berita itu? Mereka mungkin sesedih neng saat ini. 

Mereka membutuhkan bantuan dan dukungan kita di saat seperti ini. Bukannya menyelamatkan diri sendiri-sendiri di saat genting, tapi kita harus saling membantu... Jangan kucilkan seseorang karena penyakit atau kekurangannya. Itu sangat menyakitkan, meskipun tak mereka tunjukkan. 

Keep spreading love
Neng Nunung

11:11 moment 
Day 33-34 of 366



Continue reading Mereka Masih Saudara Kita 😢

Saturday, February 1, 2020

Aku, Dia, dan Doa

Bismillahirrahmanirrahim

Annyeonghaseyo yorobuun...

Tadi pagi di akun Facebook neng, neng menulis tentang sesumbar yang selama ini neng ucapkan. Iya, selama tahun-tahun kemarin saat ditanya kapan rencana neng untuk berumahtangga lagi, dengan entengnya neng jawab 20 Februari 2020. Penyebutan tanggal itu ngasal sih sebenarnya, karena tanggalnya cantik. Sesederhana itu. 

Panik kan sekarang wkwkwkkw... Saat tanggal yang dimaksud sudah hitungan hari tapi tidak ada tanda tanda pernikahan. Jangankan tanda, kepikiran aja belom mungkin hehehe... Terus mungkin teman-teman akan bertanya, kalau gak kepikiran mengapa menyebut tanggal itu?

Jawabannya ada 2 karena mekanisme pertahanan diri dan sebagai doa. Mekanisme pertahanan diri, dengan jawaban demikian orang kemudian akan berhenti bertanya aneh-aneh. Dan sungguh itu berhasil untuk neng. Jadi tips juga nih buat teman-teman yang selalu dapat pertanyaan "kapan nikah?" Jawab aja dengan tanggal ngasal. Pasti dijamin pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang. Digantikan dengan pertanyaan "Mana calonnya? Atau dapet orang mana?" Wkwkkwkw...

Yang kedua sebagai doa. Iya, meskipun secara khusus neng tidak pernah memikirkan tentang jodoh atau apalag, tapi sebagai perempuan biasa neng merindukan sosok yang bisa dijadikan tempat bersandar. Salah? Tentu tidak. Dan jawaban tentang tanggal itu memang doa yang neng sebutkan secara lantang. 

Tapi apakah itu cukup? Tidak cukuuup Marimaar... Ada ratusan bahkan ribuan doa yang terbisik ke bumi dan terhembus bersama angin. Apakah dengan demikian apakah doa neng otomatis terkabul. Bisa bisa bisa... Tapi apa neng sudah siap jika doa itu terkabul? 

Nah Allah SWT itu bisa paham apakah kita sanggup dan siap jika doa doanya dikabulkan langsung. Kalo udah siap ya langsung terwujud, bisa juga ditunda sebentar, atau bahkan digantikan dengan yang jauuuuh lebih baik. Semua itu tetap berarti Allah SWT mewujudkan doa doa kita dengan hak prerogratif yang Ia miliki. Kapan dan di saat bagaimana tak bisa kita paksakan kehendak kita.

Ada dia dalam setiap doa neng. Lelaki tanpa nama, yang padanya neng gantungkan semua asa. Dia adalah jodoh terbaik dari Allah SWT untuk neng. Siapa, kapan, dan dengan cara apa dipertemukan, Kuasa Allah SWT yang menemukan. 

Pun teman-teman, jika melangitkan doa tentang apapun pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Tentunya setelah kita ikhtiarkan yang terbaik. 

Bagi neng, "waktu tunggu" ini adalah saatnya untuk mengupgrade diri dan memoles keimanan serta ketaqwaan. Mengapa? Karena Allah SWT sudah janjikan akan mempertemukan laki laki baik baik dengan perempuan baik baik. Karena neng mau jodoh terbaik dari Allah SWT maka neng juga harus jadi pribadi terbaik. Belajar dan terus berhijrah menjadi lebih baik setiap harinya. Betuuul taakk?

Keep spreading love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 32 of 366


Continue reading Aku, Dia, dan Doa

Friday, January 31, 2020

Catatan Syukur Akhir Bulan - Januari 2020

Annyeonghaseyo yorobuun...

Kali ini neng cuma mau berbagi catatan syukur akhir bulan. Satu hal sederhana yang InsyaAllah mulai dibiasakan sejak saat ini. Mengapa syukur perlu dicatat? Bagi neng yang kadang masih suka mengeluh sehari-hari, proses ini sangat membantu melatih diri agar tak mudah mengeluh. Agar neng tahu buanyaaak hal yang terjadi dalam hidup neng yang patut untuk disyukuri.

Baiklah neng akan mulai yaaak... Ini adalah banyak hal yang neng syukuri dalam hidup neng sepanjang bulan januari. 

🍁 Alhamdulillah sepanjang bulan ini neng dan mama jauh dari sakit sakit yang mengharuskan kami harus sambang dokter. Kalau cuma sakit sakit ringan alhamdulillah bisa sembuh dengan persedian obat di rumah dan juga istirahat.

🍁 Alhamdulillah InsyaAllah neng mulai lagi perjalanan belajar menjadi lebih baik. Salah satunya dengan menggunakan hijab kembali. Kali ini bukan hanya menutup aurat (InsyaAllah bukan atas desakan atau pengaruh orang lain) tapi juga mulai haus belajar tentang agama Islam lagi. Dari hal hal yang paling sederhana. Neng merasa kali ini benar-benar jatuh cinta dengan Allah SWT. 

🍁 Alhamdulillah melewati tanggal 4 januari tanpa drama. InsyaAllah tanpa penyakit hati dan tanpa amarah pada dia. InsyaAllah seterusnya bisa merasakan kedamaian dalam hati ini.

🍁 Alhamdulillah tersambung kembali silahturahim dengan teman - teman lama. Dan InsyaAllah akan membawa kebaikan bagi semuanya

🍁 Alhamdulillah banyak peluang dan pekerjaan yang terasa lebih lancar. Pekerjaan neng di dunia properti InsyaAllah semakin mantab menjejakkan diri. Mendapat kesempatan bekerjasama dengan banyak pihak, InsyaAllah bisa menjaga amanah. 

🍁 Alhamdulillah memiliki adek yang MasyaAllah luarbiasa perjuangannya demi keluarga neng. InsyaAllah segera bisa saling membahu dengannya menyelesaikan urusan rumah. Mohon doanya semoga dia segera diamanahi buah hati oleh Allah SWT, sehat, pernikahannya samawa, rezekinya berlimpah dan berkah

Semoga sedikit catatan syukur di atas bisa mewakili banyak peristiwa baik dan anugerah dalam hidup neng di bulan ini. 

Keep spread love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 31 of 366


Continue reading Catatan Syukur Akhir Bulan - Januari 2020

Thursday, January 30, 2020

Body Shaming dan Kesehatan Mental

Annyeonghaseyooo yorobuuun

Beberapa waktu lalu neng terhenyak dengan berita pembunuhan. Yang membuat terhenyak bukan hanya tentang kasus pembunuhannya. Tapi karena motif pembunuhannya. Menurut keterangan polisi pembunuh merasa sakit hati karena korban selalu menghina fisiknya hampir setiap hari. Karena mendapat perundungan itu, ia merasa sakit hati dan dendam hingga terjadilah pembunuhan itu.

Bullying dan Body Shaming, mungkin sudah sering terjadi di tengah tengah hidup kita. Tidak hanya di usia sekolah bahkan sampai usia dewasa, bullying dan body shaming masih sering kita temui. Ye kaaan... Jujur deh... Entah kita sebagai korban atau pelaku. 

"Wooohhh gajah lewat"
"Ga usah melok, ga kuat mobile kabotan awakmu"
"Nduuutt..."
"Heee keceeeeng"
"Mangano ta awak koyo biting"

Pernah dengar kalimat kalimat di atas diucapkan? Dari sekedar yang dibilang cuma becandaan tanpa ada niatan untuk bullying apalagi body shaming, sampai memang dengan sengaja berniat demikian. Namun, kebanyakan pelaku bullying atau body shaming bahkan tidak sadar telah melakukan hal yang salah. 

Karena apa?

Karena masyarakat menganggap bahwa hal hal itu bukan sesuatu yang serius atau berbahaya. Lagi-lagi karena balutan becandaan antara teman atau iseng bahkan. Padahal mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan berdampak serius pada mental korban. 

Neng adalah orang yang dari kecil kenyang dengan bullying dan body shaming. Dan sepanjang hidup jamak sekali neng temukan premis premis pembelaan dari pelaku. Awal awal aja stress, jadi insecure dengan diri sendiri, jadi kurang mencintai diri sendiri, dan banyak hal negatif lainnya. Hingga akhirnya neng kebal dan udah terbiasa dengan segala macam sebutan yang diterima. 

Tapi apakah semua korban seperti neng? Ga darling... Banyak orang di luar sana ga bisa "biasa biasa" saja, banyak orang di luar sana yang kemudian memeram luka dan sakit hati lebih lama. Yang kemudian mungkin berimbas pada kesehatan mentalnya. Seperti yang neng bilang tadi, di awal awal berasa insecure dll. Itu kalau neng, yang lain? Bisa saja berdampak lebih buruk. 

Masih ingat kasus siswa smp yang bunuh diri di Jakarta yang konon adalah korban korban bullying? Tak perlu lah neng jabarkan banyak kasus lainnya untuk menunjukkan bahayanya bullying dan body shaming. 

Lantas harus bagaimana? 

Belajar untuk menghargai orang lain bagaimanapun keadaan orang tersebut. Terlebih lagi yang penting adalah jangan mudah mengeluarkan kata kata buruk tentang orang, kita harus pandai menahan lisan atau tulisan. Karena lisan dan tulisan kita bisa setajam pedang kalau kita gagal mengendalikannya. 

Jangan dengan atas nama becanda atau iseng menjadi pembelaan kita boleh melakukan bullying dan body shaming. Bayangkan jika orang yang kalian rundung itu adalah orang yang kalian sayangi. Bayangkan jika ia tak melihat itu semua sebagai becandaan atau iseng dan merasakan sakit hati atau dendam. 

Keep spread love no hate
11:11 moment
Day 30 of 366

Neng Nunung




Continue reading Body Shaming dan Kesehatan Mental

Wednesday, January 29, 2020

Banjir Informasi tentang Corona Virus? Ini yang Harus Kita Lakukan

Too Much Noisy?
Bijaklah Menyaring Informasi di Masa Genting

Bulan pertama di tahun 2020 ini dunia benar benar dibuat tergopoh gopoh atau hanya sekedar dikagetkan dengan beberapa peristiwa. Mulai dari kebakaran hutan hingga banjir di Australia, ricuh penyintas di perbatasan Meksiko dan US, upaya penggulingan Donald Trump, banjir di Indonesia, skandal Garuda dan rentetan skandal pergundikannya, wabah Corona Virus, hingga demam Crash Landing on You. 

Yang terakhir ini cukup bikin neng megap megap lah ya... Kalo yang lain ga merasa yg sama yaaa mon maap... 

Ok balik serius hehhee... Salah satu yang banyak menyita ruang ruang media yang kita miliki sehingga penuh dengan informasi terkait adalah wabah Corona Virus. Neng gak akan membahas tentang virus ini dan segala macam teori konspirasi di baliknya. 

Neng akan fokus pada bagaimana kita sebagai pengguna media sosial atau penerima informasi harus bertindak menyikapi luapan arus informasi yang beredar. Karena banyak informasi yang akhirnya menjadi terlalu bising dan membingungkan. Yang kemudian berdampak pada kecemasan dan ketakutan masyarakat awam. 

Apa yang bisa kita lakukan pada masa masa seperti ini? 

1. Teliti Sumber Informasi
Di masa masa genting, neng yakin akan baanyaak sekali muncul informasi A-Z tentang perkembangam wabah Corona Virus. Atau yang banyak muncul broadcast adalah obat obat atau cara pengobatan dan pencegahannya. Nah, sebagai penerima informasi kita wajib meneliti sumber informasinya. Valid atau tidak. Hal ini penting karena sumber informasi yang valid akan berdampak pada kredibilitas dan tingkat kebenaran informasi tersebut. 

Namun, ketika sumber informasi sudah valid, misal dari media portal berita atau media mainstream seperti tv, koran, dll kita juga tetap wajib melakukan step ke 2. 

2. Crosscheck Validitas Informasi
Kadang pernah kan kita menemukan berita di portal online masih diragukan validitas informasinya. Bahkan kadang informasi dari media mainstream pun saling tumpang tindih bergantung narasumber yang mereka dapatkan.

Nah tugas kita kemudian adalah memastikan validitas informasi. Crosscheck dengan media yang berbeda. Narasumber berbeda. Atau jika memungkinkan bertanya pada ahli. Misal di Twitter banyak sekali dokter atau peneliti bahkan mahasiswa yang masih berada di Wuhan China yang berbagi informasi valid. Kita bisa meluangkan waktu menyimak utas info yang mereka sampaikan atau bahkan menanyakan langsung pada mereka. 

3. Bagikan Tanpa Opini Pribadi 
Jika sumber informasi valid dan informasi juga sudah kita pastikan benar baru deh boleh kita bagikan. Kalau bisa tanpa menambahkan opini pribadi yang memungkinkan penafsiran yang berbeda lagi. Kecuali memang kita expert di bidang tersebut. 

Karena sekarang ini, banyak sekali yang membagikan informasi kemudian ditambahi caption yg nyinyir atau menggiring opini yang "menyesatkan" pembaca menerima informasi yang benar. Padahal mungkin mereka yang membagikan informasi belum tentu paham. 

4. Jangan Membiaskan Informasi Demi Kepentingan Tertentu
Dengan dalih membagikan informasi kemudian dibumbui informasi yang membuat bias informasi, bolehkah? Secara etikanya sih tidak boleh. Tapi itu hak masing-masing. Namun, coba kita bayangkan mungkin saja di luar sana ada yang membutuhkan informasi yang valid kemudian ketemunya berita yang kita bagikan. Bias pula informasinya dibumbui nyinyiran, ujaran kebencian, dll. Kan kasihan... 

Kalau tidak bisa membagikan informasi yang benar dan valid lebih baik hentikan informasi itu di kamu. Jangan kotori beranda informasi orang lain dengan hal hal negatif dari kamu. Berhenti saja di kamu. 

Bijak menggunakan media sosial, bijak dalam membagikan informasi. 

Keep spread love
Neng Nunung
#sebelassebelasmoment
11:11 moment
Day 29 of 366

ps : series 11:11 moment juga bisa dibaca di Facebook saya. Day 1-28 akan diupdate menyusul di blog ini juga... 


Continue reading Banjir Informasi tentang Corona Virus? Ini yang Harus Kita Lakukan