Body Shaming dan Kesehatan Mental

Annyeonghaseyooo yorobuuun

Beberapa waktu lalu neng terhenyak dengan berita pembunuhan. Yang membuat terhenyak bukan hanya tentang kasus pembunuhannya. Tapi karena motif pembunuhannya. Menurut keterangan polisi pembunuh merasa sakit hati karena korban selalu menghina fisiknya hampir setiap hari. Karena mendapat perundungan itu, ia merasa sakit hati dan dendam hingga terjadilah pembunuhan itu.

Bullying dan Body Shaming, mungkin sudah sering terjadi di tengah tengah hidup kita. Tidak hanya di usia sekolah bahkan sampai usia dewasa, bullying dan body shaming masih sering kita temui. Ye kaaan... Jujur deh... Entah kita sebagai korban atau pelaku. 

"Wooohhh gajah lewat"
"Ga usah melok, ga kuat mobile kabotan awakmu"
"Nduuutt..."
"Heee keceeeeng"
"Mangano ta awak koyo biting"

Pernah dengar kalimat kalimat di atas diucapkan? Dari sekedar yang dibilang cuma becandaan tanpa ada niatan untuk bullying apalagi body shaming, sampai memang dengan sengaja berniat demikian. Namun, kebanyakan pelaku bullying atau body shaming bahkan tidak sadar telah melakukan hal yang salah. 

Karena apa?

Karena masyarakat menganggap bahwa hal hal itu bukan sesuatu yang serius atau berbahaya. Lagi-lagi karena balutan becandaan antara teman atau iseng bahkan. Padahal mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan berdampak serius pada mental korban. 

Neng adalah orang yang dari kecil kenyang dengan bullying dan body shaming. Dan sepanjang hidup jamak sekali neng temukan premis premis pembelaan dari pelaku. Awal awal aja stress, jadi insecure dengan diri sendiri, jadi kurang mencintai diri sendiri, dan banyak hal negatif lainnya. Hingga akhirnya neng kebal dan udah terbiasa dengan segala macam sebutan yang diterima. 

Tapi apakah semua korban seperti neng? Ga darling... Banyak orang di luar sana ga bisa "biasa biasa" saja, banyak orang di luar sana yang kemudian memeram luka dan sakit hati lebih lama. Yang kemudian mungkin berimbas pada kesehatan mentalnya. Seperti yang neng bilang tadi, di awal awal berasa insecure dll. Itu kalau neng, yang lain? Bisa saja berdampak lebih buruk. 

Masih ingat kasus siswa smp yang bunuh diri di Jakarta yang konon adalah korban korban bullying? Tak perlu lah neng jabarkan banyak kasus lainnya untuk menunjukkan bahayanya bullying dan body shaming. 

Lantas harus bagaimana? 

Belajar untuk menghargai orang lain bagaimanapun keadaan orang tersebut. Terlebih lagi yang penting adalah jangan mudah mengeluarkan kata kata buruk tentang orang, kita harus pandai menahan lisan atau tulisan. Karena lisan dan tulisan kita bisa setajam pedang kalau kita gagal mengendalikannya. 

Jangan dengan atas nama becanda atau iseng menjadi pembelaan kita boleh melakukan bullying dan body shaming. Bayangkan jika orang yang kalian rundung itu adalah orang yang kalian sayangi. Bayangkan jika ia tak melihat itu semua sebagai becandaan atau iseng dan merasakan sakit hati atau dendam. 

Keep spread love no hate
11:11 moment
Day 30 of 366

Neng Nunung




No comments:

Post a Comment