Mereka Masih Saudara Kita 😢

Bismillah
Annyeonghaseyoo yorobuun

Kangen euy padahal baru sehari jeda neng ga nulis. Selain karena kesibukan (eh ciyeee sibuuk) kemarin tuh neng tertegun dengan berita yang seliwar seliwer. Selain di linimasa, berita tersebut banyak muncul di televisi, portal berita, dan banyak lagi. Saat melihat berita itu kaya berasa sediih gitu. 

Berita apa sih neng? 

Ituh berita pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang selama ini terjebak di beberapa titik di China, terutama di Wuhan. Kota yang konon tempat bermulanya wabah virus Corona. Saat saudara-saudara kita itu masih di sana, banyak yang berkomentar kenapa sih tidak segera dievakuasi. Saat sudah dievakuasi dan pemerintah sudah menentukan tempat observasi yaitu di kepulauan Natuna melalui Batam muncul lagi reaksi dari warga sekitar. 😢

Jujur, neng shock melihat reaksi warga Natuna. Tapi sebenarnya paham juga sih. Di antara informasi yang simpang siur tentang wabah Virus Corona dan status kondisi WNI yang dipulangkan dari China ini menimbulkan ketakutan dari warga kepulauan Natuna. Neng juga paham kalo wakil bupati Natuna juga beberapa anggota DPRD bereaksi keras karena merasa Pemerintah pusat tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam penentuan lokasi observasi. Neng juga paham pendapat tokoh masyarakat yang juga koordinator aksi yang menanyakan mengapa Natuna yang dipilih sementara fasilitas kesehatan di Ibukota negara lebih lengkap dibanding Natuna. Neng juga mengerti ketakutan warga yang takut kalo wabah virus Corona akan menjangkiti di kepulauan Natuna apabila observasi WNI dari China dilakukan di sana. Neng juga sangat memahami kalau warga masyarakat kepulauan Natuna menginginkan adanya jaminan kesehatan nantinya.

Tapi... 

Reaksi masyarakat yang neng lihat di layar televisi atau portal berita internet itu membuat neng patah hati. Bagaimana massa yang menyerbu ingin masuk ke pangkalan militer di Natuna. Bagaimana mereka ingin mengusir 238 WNI yang dievakuasi dari China dan tidak mengizinkan saudara-saudara sebangsanya sendiri itu menginjakkan kaki di Natuna dengan alasan tidak mau tertular virus Corona. Bagaimana suasana menjadi ricuh, pembakaran ban, teriakan amarah, wajah penuh emosi dan masih banyak lagi reaksi yang membuat neng patah hati. 

Kalau penolakan itu dilakukan oleh WNA atau bukan saudara sebangsa sih mungkin bisa neng mengerti dan pahami. Tapi ini masih saudara sebangsa loh. Di KTP masih sama tulisannya kewarganegaraan Indonesia. Iya neng juga takut kok kalau tertular virus penyakit itu. Takut banget malah. Tapi kan ya pemerintah pasti sudah mengkalkulasi semua keputusan yang diambil. Termasuk dampaknya yang mungkin muncul di tempat lokasi observasi di lakukan. 

Presiden, Menteri Luar Negeri, Panglima TNI, Menteri Kesehatan, dan semua jajaran pasti punya alasan kuat mengapa memilih Natuna sebagai tempat observasi. Menurut Panglima TNI dari semua titik alternatif lokasi, Natunalah yang memiliki pangkalan militer dengan rumah sakit yang ada di bawah tiga Angkatan. Lokasi yang dipilih juga merupakan sebuah Hanggar yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tetap nyaman saat 238 WNI yang dievakuasi dari China itu diobservasi selama 14 hari kedepan. 

Menteri Kesehatan, dr. Terawan juga menekankan bahwa 238 WNI yang dievakuasi dalam keadaan sehat, tidak dalam keadaan demam, atau terindikasi terinfeksi virus Corona. Karena menurut dr. Terawan pemulangan 238 WNI itu sudah sesuai regulasi di China saat ini. Karena pemerintah China bahkan tidak akan memberikan izin keluar dari negaranya jika seseorang itu sedang mengalami sakit. Hal ini terbukti ada beberapa WNI yang tidak mendapatkan permit saat proses evakuasi dilakukan. 

Observasi selama 14 hari ini hanyalah upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan SOP yang ditetapkan oleh WHO, Prosedur Tetap (Protap) dari standar kesehatan militer yakni International Commitee Military Medicine (ICMM), dan peraturan militer. 

Kenapa kesannya tanpa koordinasi atau serba mendadak? 

Ya kalau neng pikir sih ini semata-mata karena alasan darurat. Dan semua keputusan yang diambil pasti sudah dipikirkan masak-masak oleh semua pihak. 

Ketakutan masyarakat Natuna neng pikir juga wajar muncul karena minimnya informasi yang terpercaya tentang wabah virus Corona dan penangananya oleh pemerintah. Lebih banyak hoax yang bertebaran. Di sini mungkin PR pemerintah untuk memberikan sosialiasi yang jelas pada masyarakat. Masyarakat harus mendapat asupan informasi yang tepat tentang bagaimana virus Corona, penyebarannya, bagaimana pencegahannya, dan banyak hal yang lain. Agar masyarakat ada gambaran dan tidak mengalami ketakutan yang berlebihan atau bahkan tidak peduli berlebihan. 

Di atas semua itu...
Neng cuma pengen bilang sih 238 orang yang sekarang diobservasi itu masih saudara kita loh. Atau bahkan di luar 238 orang itu, mereka yang pulang secara mandiri dari China. Mereka masih saudara kita. Bahkan jika mereka terinfeksi pun, mereka masih saudara kita. Menolak keberadaan mereka di dekat kita seolah olah merekalah virusnya itu menyakitkan hati. Bagaimana perasaan anggota keluarga mereka melihat berita itu? Mereka mungkin sesedih neng saat ini. 

Mereka membutuhkan bantuan dan dukungan kita di saat seperti ini. Bukannya menyelamatkan diri sendiri-sendiri di saat genting, tapi kita harus saling membantu... Jangan kucilkan seseorang karena penyakit atau kekurangannya. Itu sangat menyakitkan, meskipun tak mereka tunjukkan. 

Keep spreading love
Neng Nunung

11:11 moment 
Day 33-34 of 366



No comments:

Post a Comment